di museum seratus mata ikan
aku melihat tubuh tubuh telanjang
yang menari dalam keremangan
dengan cawat terbakar yang membelit
anak anak dan janin ikan
mereka terbujur menggigil
di ujung garis horizon
dimana tiga matahari tenggelamm
dan aku memanggil mereka
yang terkurung dalam kristal es
menutup mata
menutup telinga
mereka yang terus mengoceh
dalam bahasa yang hanya bisa..
di mengerti angin timur
dan dedaunan yang tertidur
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar